Kalau mengikuti logika dan kampanye pemerintah terkait subsidi BBM, sebenarnya Premium itu adalah "BBM-nya para
mustahiq (baca: penerima zakat)".
Anehnya, para
mustahiq itu kini justru dipaksa menjadi
muzakki (baca: pemberi zakat) lewat penarikan pungutan yang besarnya mencapai 2,8 persen dari harga tiap liter Premium yang mereka konsumsi untuk apa yang disebut oleh Menteri ESDM sebagai dana ketahanan energi. (Harga Premium Rp 7.150, pungutan Rp 200)
Besaran pungutan itu bahkan lebih besar dari zakat. Benar-benar inkonsistensi logika yang vulgar.
Reshuffle memang semakin dekat. Dan sejumlah orang tengah kelabakan ingin tampil bak pahlawan hanya untuk menyelamatkan kursinya, meskipun itu harus menempuh jalan menggelikan semacam kebijakan Menteri Sudirman ini.
(Tarli Nugroho)
Related Posts :
Semua Kitab Suci Diturunkan Pada Bulan Ramadhan
[portalpiyungan.com] Semua Kitab Suci Dari Allah swt diturunkan Pada Bulan Ramadhan.
Shuhuf Ibrahim, Taurat, Zabur, Injil dan Al Qur’an j… Read More...
Waduh! Daging Impor Kualitas Rendah Picu Stroke
[portalpiyungan.com] Pemerhati masalah daging impor kualitas rendah asal Universitas Andalas Padang, Sumbar, Benny Dwika Leonanda meminta … Read More...
Bupati Polewali Mandar: Tidak Boleh Ada Anak yang Tamat Sekolah yang Tidak Punya Sertifikat Mengaji
[portalpiyungan.com] Bupati Polewali Mandar, Andi Ibrahim Masdar punya kebijakan yang sangat bagus terkait pendidikan anak di sekolah.
"T… Read More...
Tertipu Dandanan Media
#Tertipu1
Dulu ada orang yang didandani oleh media dengan begitu sederhananya. Jadi tukang tambal ban, jadi tukang sapu jalan, kelua… Read More...
Tempo, Teman-Teman Ahok, dan Kill The Messenger
Tempo, Teman-Teman Ahok, dan Kill The Messenger
Bila tak mampu membantah substansi persoalan, maka bunuhlah karakter sang pembawa pesan. … Read More...