Makassar 27 November 2014 - Selamat Datang Rezim Represif!

Almarhum Mohammad Arif , Warga Makassar Korban Bentrok 27/11/14 - Foto : Ist
Demo mahasiswa yang menolak kebijakan pemerintah menaikkan harga Bahan Bakar Minyak (BBM) kembali terjadi di Makasssar, Sulawesi Utara.

Bentrokan antara petugas kepolisian dan mahasiswa kembali pecah di depan Kampus Universitas Muslim Indonesia (U) Makassar di Jalan Perintis Kemerdekaan Makassar, Kamis 27 November 2014 malam berlangsung ricuh.

Dalam bentrokan tersebut, seorang warga sipil bernama Ari tewas.Sementara itu, polisi memasuki area kampus dan menembakkan gas air mata secara membabi buta, bahkan sampai ke area masjid kampus meski sedang berlangsung shalat Isya.

Akibat bentrokan ini, arus kendaraan di jalan tersebut lumpuh total, karena sisa-sisa batu dan ban yang dibakar masih berserakan di jalan.

Bentrok antara mahasiswa dan polisi sebenarnya sudah sempat mereda beberapa terakhir ini. Hari ini kembali pecah, setelah waktu perkuliahan mahasiswa UMI kembali normal usai diliburkan pascabentrok beberapa waktu lalu.


Kronologi Peristiwa Makassar 27 November 2014

Pukul 15.25 wita:
50-orang mahasiswa mengatasnamakan Aliansi UMI Bersatu aksi meminta pemerintah menurunkan harga BBM

Pukul 15.30 wita
Personel Polsek Panakukang dipimpin Kapolsek Panakukang Kompol Tri Hambodo tiba di lokasi aksi

Pukul15.35 wita
Para mahasiswa bergerak ke arah utara

Pukul15.45 wita
Tiba di depan kantor gubernur. Mereka berorasi sembari meminta gubernur menemui mereka

Pukul 16.30 wita
Pendemo memaksa masuk ke dalam kantor gubernur, namun dihalangi Satpol PP. Kericuhan terjadi dan saling lempar batu

Pukul 16.33 wita
Pendemo ditemui Kasatpol PP dan menjelaskan bahwa gubrnur  tidak berada di tempat. Mahasiswa tidak terima dan bentrok berlanjut

Pukul 16.35 wita
Dalmas Polrestabes Makassar tiba di lokasi bentrok dan berusaha membubarkan aksi. Terjadi bentrok antara mahasiswa dan polisi

Pukul 16.38 wita
Wakil Rektor III UMI Prof Achmad Gani menemui pengunjuk rasa, namun tidak diindahkan.

Pukul 16.40 wita
Satu unit water canon dari arah barat tiba dan langsung menembakkan air

Pukul 16.55 wita
Aparat kepolisian mundur kembali ke kantor gubernur. Mahasiswa terus berusaha menyerang

Pukul 17.10 wita
1 unit water canon APC dibantu masyarakat berhasil memukul mundur pengunjuk rasa

Pukul 17.12 wita
Aparat kepolisian masuk lagi ke halaman kantor gubernur.

Pukul 17.31 wita
Pengunjuk rasa bergeser ke depan kantor gubernur dan melemparkan batu, polisi membalas dengan tembakan gas air mata .

Pukul 17.40 wita
Pendemo menahan mobil tongkang warna hijau DD 9574 AA. Sopir dipaksa menumpahkan pasir di tengah jalan.

Pukul 17.45 wita
Warga Pampang ikut membantu pendemo menyerang ke kantor gubernur. Warga Pampang marah setelah kabar tetangga mereka jadi korban

Pukul 18.09 wita
Rantis APC dibantu pengguna jalan raya menyerang pendemo yang dibantu warga Pampang. Perang segitiga terjadi (pengguna jalan dan polisi vs mahasiswa dan warga Pampang)

Pukul 18.28 wita
Pendemo dibantu warga Pampang menutup seluruh badan Jl Urip Sumoharjo menggunakan batu, kayu, dan bambu

Pukul 18.37 wita
1 unit water canon dan APC dibantu warga memukul mundur pendemo masuk ke dalam kampus dan membuka blokade jalan

Pukul 19.40 wita
Aparat kepolisian kembali.

Pukul 19.50 wita
Pendemo keluar lagi ke di depan kampus dan melemparkan bom molotov ke jalan, kemudian saling melempr batu dengan warga di sekitar kantor gubernur

Pukul 20.20 wita
Pendemo terdesak kembali masuk kampus oleh warga dan terjadi pembakaran motor

Pukul 20.37 wita
Dua  unit mobil Water Canon tiba di pintu 1 kampus UMI. Arus lalulintas lancar.

----------

Pernyataan Jendral Polisi Sutarman - Foto : Herudin
Satu lagi tindak represi ditunjukkan oleh Polri. Sebagai kekuatan yang seharusnya menaungi dan mengayomi rakyat, Polri kini justru memilih untuk menakut-nakuti. Mereka memilih pasang badan untuk kekuatan dan kekuasaan rezim sipil yang kemarin dipilih warga dengan penuh sukacita.

Berawal dari kebijakan Polri yang siap pasang badan jika program-program yang akan dijalankan pemerintahan Joko Widodo-Jusuf Kalla diprotes oleh rakyat, tindakan represi Polri semakin menjadi-jadi.

Kenaikan BBM yang oleh Jendral Sutarman dikatakan sebagai kebijakan pro rakyat dan karenanya harus dibela, kini sudah membuat rakyat semakin berjarak. Mahasiswa, yang merupakan elemen rakyat, dipukuli di dalam mushala. Bahkan, polisi menginjak-injak batas suci dan menyerbu masuk ke dalam masjid ketika shalat isya sedang berlangsung.

Mahasiswa yang membela saudaranya yang tak mampu lagi hidup layak akibat kenaikan BBM, mendapat upah berupa pukulan, tendangan, dan tembakan gas air mata. Kejadian Makassar kemarin, bukan yang pertama. Tanggal 18 November 2014, persis sehari setelah pengumuman kenaikan harga BBM oleh Jokowi,

La Yuslan, Korban Pemukulan Oleh  Polisi 18/11/14 - Foto : Arham
Malam itu, Selasa, 18 November 2014, aparat yang dibantu preman tiba-tiba menyerang sejumlah mahasiswa Universitas Muslim Indonesia (UMI) yang sedang melakukan aksi penolakan kanaikan harga BBM di depan Kampus UMI. Polisi mengeroyok satu mahasiswa yang tidak ikut dalam aksi tersebut.

La Yuslan mahasiswa Fakultas Teknik Industri Universitas Muslim Indonesia pun menjadi bulan-bulanan pengeroyokan oleh aparat kepolisian di depan kampus UMI. Kejadian ini terjadi saat sejumlah Mahasiswa UMI melakukan aksi penolakan kenaikan BBM, sekitar pukul 20.00 WITA malam.

Saat itu korban berjalan kaki dari arah kostnya, hendak ingin singgah untuk menarik uang di ATM yang berada di depan kantor BOSOWA. Tiba-tiba saja La Yuslan yang tak tau apa-apa dikeroyok oleh polisi berjumlah sekitar 7 orang yang sedang bertugas mengamankan aksi mahasiswa tersebut.

“Saya sangat kecewa dengan tindakan polisi ini, padahal saya cuma jalan mau masuk ke ATM tiba-tiba datang polisi sekitar 7 orang langsung memukul dan menendang” ujarnya.

Korban sudah berjatuhan. Korban tewas pun sudah ada. Sampai kapan tindakan represif ini akan dibiarkan? Rezim ini telah membunuhi anak negeri. Rezim ini telah membunuhi rakyatnya dan mereka yang selama ini menepuk dada dan mengaku penegak dan pembela Hak Asasi Manusia masih bungkam. (fs)

Subscribe to receive free email updates: