Catatan Zeng Wei Jian: APAPUN CERITANYA AHOK SUDAH TAMAT


[Catatan Zeng Wei Jian]
APAPUN CERITANYA AHOK SUDAH TAMAT

Setelah Rapat Akbar Rakyat (Luar Batang) dibuka ketua panitia, orasi dilanjutkan oleh Mba Upi, ustad yang tak kukenal namanya & Ratna Sarumpaet. Semuanya mengutuk policy Gubernur Ahok. Tidak satu pun bertendensi rasialist anti-tionghoa. Teriakan massa pun hanya menjurus kepada Sang Gubernur yang dikatakan sebagai "kecelakaan sejarah" oleh beberapa figur medsos.

Salah satu orator memekik, "bila Ahok tetep barbar, kita pun bisa lebih barbar!"

Semua orang resah dengan statemen Ahok, perilaku wataknya & proyek gusur menggusurnya. Ahokers di seluruh jagat maya berhasil dicuci otak oleh buzzer bayaran yang modul contekannya bocor ke publik. Roy Suryo difoto ngakak saat menertawai 'leak' tersebut. Ya, selama ini Cyrus Network, buzzer bayaran dan para prajurit jin dunia maya berhasil membentuk karakter jahat segelintir warga kota. Mereka bahkan sampai hati mengolok-olok dan mengejek orang miskin yang dinyatakan Ahok; "nggak perlu dikasihani."

Media pun mandul. Ahok dilindungi atas dasar pluralitas.
Padahal dia terkait dua skandal korupsi; Waras-gate dan kasus "Di bawah bendera Reklamasi".

Seorang pejabat BPK menyatakan Ahok menjual aset pemda saat dia berkuasa di Belitong Timur. Mestinya bila terjadi di negara2 maju seperti Eropa, Jepang dan Korea, Ahok meletakan jabatan. Itu terjadi di negara-negara maju . Apa pun pengakuannya, banyak yg melihat Ahok melakukan keteledoran shg merugikan negara di skandal Waras-gate. Demi untuk memudahkan penyelidikan KPK, ya dia harus mundur dari posisi DKI-1. Biar KPK bisa mandiri menyelesaikan tugas.

Di dunia maya, Semua pernyataan negatif soal Ahok langsung dibully rame-rame. Mereka membuat dikotomi ahoker vs haters. Padahal mereka sama-sama warga anak bangsa.

Ahok, dibantu tim cyrus dan buzzer bayaran memecah belah kesatuan antar warga. Ruang demokrasi dikotori dengan disinformasi sepihak dan delusi developmentalisme inhuman yang bebas nilai. Situasi ini sangat berbahaya bagi intelektualitas.

Segala-galanya "dibully", kata ini jadi tren sosialitet baru.
Kepadaku, Poppy Dharsono cerita bahwa sewaktu dia meninjau Belitung Timur, dia melihat warisan Bupati Ahok: sebuah gedung rumah sakit kosong setengah jadi berukuran besar. Entah berapa budget APBD diserap oleh pembangunan gedung yang tak terpakai itu.

RW Ahmad cerita bahwa setiap hari ada saja warga rusun Marunda dan Rawa Bebek curhat. Dia jadi pusing. Ex warganya itu ngeluh banyak hal. Tidak seperti pola penggusuran Mas Jokowi, warga kampung Aquarium tidak memperoleh kompensasi apa pun. Mereka cuma bisa selamatkan harta milik yang bisa diangkut oleh tangan. Penggusuran dilancarkan secara mendadak. Seperti taktik perang "Blitzkerig"-nya Hitler.

Mbak Endang, dibenarkan oleh RW Ahmad, bilang bahwa ukuran rusun hanya 23 m persegi. Tipe kamar studio. Gak berbeda dengan kamar kost. Tidak ada skat kamar tidur, ruang makan atau ruang tamu. Warga yang bersedia ditangkarkan di rusun itu harus membuka rekening bank DKI. Biayanya 200 ribu. Mereka mesti punya deposit 900 ribu. Nantinya, mereka harus bayar iuran 300 ribu per bulan. "Listrik pake token," kata Mba Endang. Air pun mesti bayar. Apa yang akan terjadi kepada mereka yang tidak punya uang buat penuhi syarat deposit itu? Bukankah rumah dan harta mereka telah digusur dengan gusar oleh aparatus pertahanan dan keamanan negara yang memiliki licence to kill.

Para korban itu mesti bayar pake apa?

Aktifis Marlo Sitompul menemukan banyak kasus kertas segel di beberapa rusun. Warga yang sebelumnya digusur dan direlokasi ke rusun jadi homeless. Karena mereka ga sanggup bayar iuran. Sebabnya, seiring beko2 menggilas rumah mereka, gubernur Ahok merampas mata pencarian mereka juga. Relokasi rusun jauh dari laut itu salah satu contoh soal perampasan sumber rezeki mereka.

Wajar bila mereka melawan sang gubernur. Bisa dimengerti mengapa rapat akbar Masjid Luar Batang digelar. Sekalipun matahari menyengat dengan terik, mereka tetap berteriak "ganyang ahok".

Matahari semakin terik saat Jenderal Joko Santoso naik ke mimbar bebas. Para pengawal pribadi dari brigade 08 mengiringi sang mantan Panglima TNI itu. Sebelum pidato dia mempersilahkan wartawan dan intel yang hendak merekam suaranya agar meletakan alat perekam lebih dekat lagi. "Supaya jelas rekamannya," ujarnya.

Jendral Joko Santoso meminta agar prajurit Sapta Marga berhenti melakukan penggusuran terhadap rumah-rumah warga.

Dia berpesan agar semua pihak menghindari aksi anarkis melawan hukum. "Habis kalian kalau sampai melanggar hukum," katanya.

Orasi Jendral Joko diganggu yel-yel massa.




Subscribe to receive free email updates: